1973.

Hari ketiga di bulan Oktober. Pukul tiga pagi dini hari. 
Aku menulis yang kumaksudkan sebagai sebuah surat. Aku duduk memikirkan apa yang harus kutulis tentang si penerima surat ini. Tentang perjalanan kami yang menyenangkan, tentang cara marahnya, atau tentang sikapnya yang kadang terasa seperti dinding tinggi yang sulit kutembus. 

Ada hari-hari ketika aku merasa kecil di hadapannya, ketika kalimatnya meninggalkan jejak yang sulit hilang.

Aku pernah kecewa padanya. Pada sikapnya, pada tutur katanya, pada cara ia memilih untuk menunjukkan rasa kasih. Tapi pada akhirnya, aku selalu memilih untuk memaafkannya. Entah kenapa, aku mudah memaafkannya. Mungkin karena bagian itu pula yang ia ajarkan.

Hari-hari yang berjalan maju seolah sedang mengambilnya dariku. Atau entah, mungkin kalimat barusan terbalik: akulah yang berjalan, seolah menjauhinya. Aku berjalan dengan cepat, mengejar dunia yang menjanjikan kebahagiaan dan dengan sadar meninggalkan dunia yang sebetulnya aku butuhkan. Dunia yang sebenarnya sudah berkali-kali membuktikan kebahagiaan.

Di sepanjang perjalanan ini, aku menemukan dirinya yang selalu tumbuh menjadi bagian dari diriku hari ini. Ia menyimpan sebagian hidupnya di dalam diriku: ia menyimpan keberanian, ketegasan, rasa takut gagal, kesederhanaan, caranya menerima maaf, caranya memasak makanan enak, caranya menjemur pakaian yang benar, caranya bertahan hidup, dan caranya menjadi kritis. Namun bersama itu, ia juga menyimpan caranya marah, caranya berargumentasi, dan caranya menjadi keras.

Pada perjalanan ini pula aku menemukan ketegasan yang membungkus rasa takut kehilangan, perasaan cinta yang dibungkus aturan, dan perhatian yang bersembunyi di balik nada suaranya yang tinggi. Dan meskipun pada akhirnya aku berharap tidak ingin punya bahasa cinta yang sama. Aku ingin tumbuh dengan bahasa cintaku sendiri, bahasa cinta yang bicara, bahasa cinta yang mendengar, bahasa cinta yang di dalamnya penuh apresiasi, dan bahasa cinta yang aku temukan sendiri. 

Sekali lagi, pada perjalanan ini pun aku menemukan alasan kenapa bahasa cintanya begitu berbeda atau mungkin begitulah cara dunia membentuk dirinya. Membentuk dinding keras itu untuk melindungi hatinya yang rapuh. Melindungi kasihnya yang teramat besar.

Ia menjadikan segala hal kecil bagian dari pelajaran. Kaus kaki misalnya. Pagi itu kaus kakiku hilang sebelah: sebuah kasus yang sering dialami. Ia bilang bahwa kaus kaki hilang sebelah adalah bentuk ketidaktanggung jawab-an ku atas diriku sendiri, atas barangku. Bahwa manusia seringkali menyepelekan hal kecil yang kalau selalu dilakukan itu akan menghambat kesempatan yang lebih besar. 
Dulu aku pikir itu hanya kekhawatiran orang dewasa yang berlebihan saja. Sampai pada suatu pagi aku terlambat masuk kelas karena kaus kaki hitamku hilang kedua-duanya. Bukan hanya terlambat, aku jadi ketinggalan buku karena jadi terburu-buru. Kemudian banyak hal lagi terjadi hanya karena kaus kaki kecil itu.

Kalau aku saja bisa kembali berjalan ke masa lalu, hal pertama yang akan kulakukan adalah tidak mengecewakannya. 
Aku berharap tidak akan mengecewakan pria yang sering kali mengganggu saat aku sedang merekam suaraku ketika bernyanyi, atau pria yang dengan sengaja lewat hanya untuk mengusik saat aku sedang merekam diriku sendiri. 

Kalau aku kembali menjadi gadis kecil dengan poni yang ia potong sendiri itu, mungkin harusnya aku tidak pernah membuatnya marah.
Mungkin, harusnya aku melihatnya bukan sebagai sosok yang menyebalkan.
Mungkin, harusnya aku tidak pernah bilang aku pergi mengaji padahal sibuk bermain dan berlari.
Mungkin, harusnya aku tidak bertindak mencelakakan adikku hanya demi mencari perhatiannya.
Atau mungkin, harusnya aku lebih mencoba memahaminya—karena bukan hanya aku yang belajar menerima dunia baru.

Tapi bersama kelahiranku, ia juga pertama kali belajar menjadi orang tua. Menjadi seorang Ayah.

Komentar

Postingan Populer