September Ke-50

Sebelumnya, kehilangan Bunda bukan bagian dari rencanaku. Namun, setelah kehilangannya aku dipaksa punya rencana untuk bertahan hidup pada dunia yang akhirnya hanya punya warna hitam, putih dan abu-abu. 

Aku sangat ingat kalau waktu kecil, aku melakukan banyak hal yang membuatnya sakit kepala. Aku memasukan kepalaku ke tralis besi di jendela rumah kami, aku mengigit anak temannya sampai anak itu menangis karena tangannya membiru, aku mengigit telinga adikku yang waktu itu belum berumur satu tahun, dan banyak aksi ajaib lainnya. Sampai remaja, menurutnya aku pemberani. Sampai setelah hari dimana ia nggak lagi ada di sebelahku, aku mulai takut akan banyak hal; termasuk takut kalau suatu hari aku lupa bagaimana suaranya.

Meskipun hanya warna gelap yang mendominasi duniaku, ada satu hal yang tetap memberikan kilau: kesempatan dua tahun yang aku terima untuk bisa duduk di sebelahnya setiap hari. Meski aku tahu betul bahwa itu nggak akan bertahan lama, aku menghabiskan banyak waktu untuk merekam kegiatannya, mengambil foto yang nggak sempurna, menceritakan mimpi-mimpi baruku—menjadi tukang kue yang punya toko bunga—meskipun aku nggak pernah belajar tentang kedua hal tersebut.

Untungnya, ia nggak pergi tiba-tiba. Ia memberi waktu, memberi aba-aba. Ada sesuatu yang melegakan ketika perpisahan nggak datang dalam bentuk kilatan. Untungnya, aku masih disisakan ruang untuk memeluk, ruang untuk mengatakan terima kasih, dan bahasa cinta lain yang sebelumnya hanya ia dengar saat perayaan Hari Ibu, ulang tahunnya, ataupun saat aku merayu ingin dibelikan sesuatu.

Empat bulan sebelum kepergiannya, ponselku dicuri. Aku marah sekali tapi bukan karena pencuri itu mengambil ponselku tapi karena ia mencuri hal lebih besar yang nggak bisa diganti; ia menghapus potongan-potongan yang aku butuhkan untuk merangkai Bunda kembali.

Aku menyadari akhirnya aku ngga bisa menyimpan Bunda dalam perangkat canggih manapun, aku hanya mampu menyimpanya pada ruang yang aku sediakan di dalam hatiku. Aku menyimpanya dalam segala hal baik pada diriku. Bunda nggak akan hilang, ia akan selalu hidup selamanya di sana, di ruang penuh warna itu.

Seiring dengan aku yang juga bertambah umur setiap tahun, aku terus tumbuh sejak usia 17, 18, 19, dan tahun-tahun selanjutnya. Namun, rasanya nggak adil kalau Bunda tetap berumur 43. Harusnya hari ini kita bisa merayakan 15 September untuk ke-50 kalinya. Meskipun Bunda selalu bilang nggak suka perayaan, aku rasa ia nggak akan keberatan kalau sekali saja kita punya memori dengan kue ulang tahun… atau sekadar setangkai bunga.

Komentar

  1. People memang come and go tapi ibu jangan dulu!

    BalasHapus
  2. Big hug and love syifa!!! Ayo kita main lagiiii😬🥹💖

    BalasHapus
  3. Kirim bunga Alfatiha buat bunda 🤲

    BalasHapus
  4. crying over the words💔

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer