Apa Ini Ada Dalam Rencanamu?
Semakin dewasa, ada banyak hal yang terasa lebih dekat. Misalnya, waktu kecil kita nggak pernah tahu rasanya nikmat melamun sendirian—atau mungkin bukan melamun, tapi sekadar menikmati waktu sendiri. Duduk di depan toko yang sudah tutup pukul sembilan malam di tepi pasar, misalnya.
Dulu kita juga nggak ngerti kenapa orang dewasa lebih sering merenung. Maksudku, entah itu disebut merenung, berpikir, atau memang cuma menjalani hidup saja. Sama halnya, dulu kita juga nggak tahu kenapa orang dewasa lebih memilih pergi bekerja daripada duduk santai bikin istana pasir.
Aku bahkan belum sempat membayangkan, ternyata menjadi dewasa memakan waktu yang sangat singkat. Rasanya seperti tertidur terlalu lama, lalu bangun dan mendapati mimpi sudah berganti menjadi kenyataan.
Kalau dulu mimpi burukku adalah monster yang berdiri di pojok kamar atau bayangan hitam yang menggantung di langit-langit, kini mimpi buruk itu berubah jadi hal-hal sederhana: kesunyian yang nggak bisa lagi diusir dengan hanya menutup mata.
Kenapa nggak ada yang pernah menjelaskan bahwa menjadi dewasa berarti nggak bisa lagi masuk arena permainan balon? Dan kenapa nggak ada yang bilang kalau seporsi martabak yang dulu harus kubagi dengan Ayah, Ibu, dan saudaraku, kini terasa terlalu banyak untuk dihabiskan sendiri?
Lilin dan balon warna-warni di pesta ulang tahun juga sudah nggak lagi menggugah mataku. Aku jadi berpikir, sebenarnya apa yang perlu dirayakan? Bukankah kita punya lebih banyak "setiap hari" yang bisa dirayakan bersama?
Pada akhirnya, mungkin memang begitu cara hidup bekerja. Bagi sebagian orang, menjadi dewasa bukan sesuatu yang pernah direncanakan. Tapi satu hal yang pasti: meskipun harus jatuh dan bangkit berkali-kali, kemenangan hanya milik mereka yang nggak pernah menyerah.
keren banget kak tulisannya... relate banget..
BalasHapusdulu papa beli sate 1 bungkus untuk bertiga, 1 orang bisa makan 3 tusuk. dulu aku nggak puas makannya, tapi sekarang aku bisa makan 3 bungkus sendiri tapi aku nggak suka. ternyata aku bukan suka satenya tapi aku suka momennya
BalasHapus