Dialogue #2 Juni ke 17 Tahun

Entah bagaimana, setelah bulan Juni rasanya semua berjalan begitu cepat, sampai kita sadar kalau November biasanya terlewat begitu saja. Itu sebabnya aku selalu suka momen di awal tahun. Selain karena rasanya baru dimulai, waktu juga terasa berjalan lebih lambat.

“Selamat ulang tahun ke-17, ya.” Aku tersenyum pagi ini, mungkin terlalu pagi.

Hari ini adikku ulang tahun ke-17. Bagi sebagian orang, angka itu memang paling pantas dirayakan. Kita bahkan akrab dengan istilah sweet seventeen, alasannya sebagai tanda peralihan dari remaja ke dewasa, atau sekadar menciptakan kenangan indah bersama teman dan keluarga.

“Terima kasih, Kak.” sahutnya—laki-laki dengan kaus dan celana pendek yang duduk di hadapanku.

Juni ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada perayaan apa pun. Keluargaku memang tidak terbiasa merayakan ulang tahun. Kami hanya menjalaninya seperti hari biasa, tanpa kue dan tanpa lilin.

Sejak Ibu sakit, aku menulis ini dari kamar rumah sakit. Tempat yang begitu asing, meski hampir empat bulan terakhir kami selalu ada di sini. Aku mulai hafal jam sibuk rumah sakit, bahkan terbiasa berjalan menyusuri lorong lain setiap pukul delapan malam, saat sebagian aktivitas mulai mereda.

Di rumah sakit, tidak ada ruangan yang benar-benar nyaman, sekalipun kamarnya paling mahal. Tidak ada makanan yang benar-benar enak atau mengenyangkan. Tidak banyak yang bisa dilakukan di sini, selain doa yang lebih sering dilangitkan. Bahkan di tengah keramaian, selalu ada suara tangisan—entah dari mana datangnya—tapi tetap terasa nyaring.

“Siapa yang ulang tahun?” suara yang sudah jarang terdengar itu kembali menyapaku.
“Adik, Bu,” jawabku.

Hari itu, aku kembali melihat senyum di wajah pucatnya.
“Bisa ke sini sebentar, Kak?”

Aku melangkah menuju suara di ujung pintu. Dua pria berdiri di sana, salah satunya mengenakan jas putih dengan stetoskop di saku.

“Karena kankernya sudah menjalar sampai ke otak dan tulang, operasi hanya akan semakin menyakiti Ibu. Kami menyarankan agar keluarga bisa merawat beliau di rumah, sambil mendoakan. Dua tahun terakhir keluarga sudah berusaha, bahkan Ibu sempat membaik setelah kemoterapi. Tapi ini jalan terakhir yang bisa menjadi pilihan untuk lebih dekat dengan beliau.”

Aku bingung mendeskripsikan bagaimana rasanya, bagian dari tubuhku yang lain seperti hancur lebur berantakan, seperti sebagian lainnya menyatu dengan angin yang berhembus kencang pagi ini. 

Dari semua penjelasan dokter, hanya potongan itu yang melekat di kepalaku. Rasanya seperti kehilangan sebagian besar duniaku. Lebih hancur dari sekadar menemani perjalanan pengobatan selama dua tahun terakhir. Hari itu terasa panjang dan begitu melelahkan.

Bersamaan dengan kebahagiaan, ternyata kita juga harus berbagi ruang dengan kematian. Entah kapan, di mana, atau apa sebabnya. Kita sering merayakan sesuatu seolah hidup akan berjalan selamanya, padahal sebagian yang lain sedang berjuang hanya untuk bertahan sehari lagi.

Terserah bagaimana caranya, kita punya waktu untuk selalu menjalani alur kehidupan dengan ketentuan yang bisa kita piih sekalipun dengan yang tidak. 

"Saya siapkan berkas kepulangan istri saya ya, Dok. Terima kasih sudah membantu."

Hari di mana kutemukan pilihan lain dari sebuah penantian. Tidak semua menunggu berujung sesuai harapan. Sisanya melukai hati dan menyisakan ruang kosong yang mustahil diisi kembali.

Komentar

  1. Huaaaa air mataku meluncur bebas

    BalasHapus
  2. “Bersamaan dengan kebahagiaan ternyata kita juga harus membagi perhatian pada kematian, entah kapan dan di mana, juga apa sebabnya” hit me the most🄹

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer