Kali Ini, Bayangkan Kita Lebih Dekat

Kali ini, bayangkan kita lebih dekat.
Lebih dari sekadar aku yang suka menulis, dan kamu yang suka membaca.
Kamu lebih dari semua kata yang pernah kamu baca,
dan aku mencoba jadi lebih dari sekadar kalimat yang kutulis.

Kali ini, bayangkan sebuah cerita yang lahir dari kekacauan.
Aku memulai ini dengan diriku yang lain.

Setiap kesalahan, mungkin bisa dimaafkan—
meski butuh waktu yang panjang.
Tapi trauma, ia tak pernah hilang.
Ia hanya bersembunyi, tersimpan dalam koneksi halus
antara neuron-neuron di korteks prefrontal,
menentukan apakah kita jadi lebih kuat
atau justru lebih rapuh.

Kali ini, bayangkan kita lebih dekat.
Sedekat nadi dengan kulit.
Meskipun tersembunyi jauh di dalam,
matamu tetap bisa melihat urat-urat panjang
yang berdenyut di bawahnya.

Sekali lagi, bayangkan kita lebih dekat.
Bisakah, setidaknya, kita berhenti sejenak untuk mendengar tanpa tergesa?
Bisakah, setidaknya, kita bicara tanpa suara yang bergetar?

Kamu yakin sejauh ini semua baik-baik saja?
Coba sesekali lihat cermin berdebu itu.
Tanyakan, berapa kali ia mendengar keluhmu,
dan menyaksikan air matamu jatuh.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer