Bun
Menuliskanmu seperti aku bersedia menyimpanmu dalam keabadian yang kubangun sendiri.
Tak peduli dengan cara gila apa kau memilih pergi,
aku tetap dengan sadar menyimpanmu.
Menuliskanmu seperti aku rela membekukanmu dalam sejarah.
Meski aku sendiri ragu,
apakah bisa disebut sejarah
jika waktumu di sini begitu singkat?
Kau masih meninggalkan begitu banyak janji,
yang aku tahu takkan pernah kau tepati.
Tidak pernah ada lagi dirimu di malam pergantian tahun.
Tidak ada di kursi sebelahku,
saat kita seharusnya menamatkan film animasi kesukaan kita.
Bahkan tidak ada ketika aku kesulitan,
meski dulu kau janjikan pelukan.
Ya sudah,
nanti ceritakan saja padaku,
seindah apa surga itu, Bun.
Komentar
Posting Komentar