Dua dua.

Terasa. Aku memulai tulisan ini dengan kata itu karena hari ini beberapa kerabatku bilang kalau tidak terasa aku sudah 22 tahun. Mungkin hanya basa-basi tapi mungkin juga tidak. 

Rasanya aku masih berhenti di umurku yang ke-15 tahun. Di sana ada ayah dan bunda. Ada aku si anak ceria dengan poni yang ia potong sendiri dengan keberanian dan kesadaran penuh. Ada aku si anak pemberani yang bisa manjat pohon jambu tapi tidak bisa turun, kemudian berakhir loncat dan menyisakan rasa takut untuk memetik buah langsung dari ranting hingga hari ini.

Rasanya perjalanan hidup setelah umur 15 terasa sangat cepat. Bahkan beberapa tidak aku ingat kenapa dan mengapa banyak peristiwa terjadi. Aku lupa bagaimana bisa aku membuat guru Bahasa Inggrisku marah hanya dengan mengirim sebuah foto yang isinya siswi satu kelas. Sampai hari inipun tidak aku temukan apa sebabnya.

Setelah umur 15 pula aku tidak menyukai perayaan karena satu-satunya yang paling aku ingat hanya ketika untuk pertama kali bundaku merayakan ulang tahunku tepat tengah malam. Ya, betul. Pertama kali. Karena keluargaku tidak mengizikan perayaan ulang tahun bersama dengan lilin yang ditiup. Dan malam itu kali pertama ulang tahunku dirayakan Bundaku. Ya, hanya kami berdua. 

Kembali pada perayaan tadi. Banyak perayaan yang sekaligus mengantarkanmu pada perpisahan. Perayaan kelulusan salah satunya. Lagipula, dirayakan atau tidak, ulang tahun hanya akan membawamu lebih dekat dengan kematian.

Komentar

Postingan Populer