Dialogue #1 I Though I Knew

"Jani, maaf ya aku tidak di sana. Aku minta maaf kalau ternyata aku tidak bisa menenangkan badai itu, maaf kalau kamu akhirnya melewati itu sendirian. Jauh di dalam hati, semua tentang kamu selalu ada dalam rencanaku."

"Tidak apa, Nugraha. Aku hanya sedang membayangkan rasanya jadi kamu yang mungkin muak dengan sebab marahku yang selalu sama. Aku hanya benci bahwa keadaan itu menyadarkan aku ternyata aku tidak sekuat yang aku kira. Nug, aku sedang membayangkan bagaimana rupanya rasa muak yang sama ketika masih disalahkan meskipun lukanya sudah tidak berdarah."

"Aku mengerti bahwa selamanya itu akan membekas, Jani. Melihatmu berusaha menyembuhkan itu setiap hari juga melukaiku, tanpa kamu mengertahui itu."

"Nug, aku terlalu menyedihkan untuk terus berjalan bersamamu."

"Aku egois, aku tahu itu Jani. Aku egois karena aku terus terluka melihatmu begini tapi aku juga tidak ingin melepaskanmu. Aku hanya terus menyembuhkan luka-luka ini dan aku akan membantumu menuliskan cerita yang baru di buku-bukumu itu. Kamu terluka dan akupun begitu, tapi kehilanganmu mungkin rasanya jauh lebih menyakitkan. Jani, berhenti untuk tidak yakin kepada dirimu sendiri. Kalau akhirnya aku gagal menyelamatkmu dari semua bentuk kehancuran, tolong selamatkan dirimu sendiri. Jadilah dirimu yang paling aku sayangi itu."

"Tapi Nug.."

"Mungkin kamu lupa, kamu pernah bilang bahwa aku menyelamatkanmu dari kekacauan, kan? Tidak, bukan itu yang aku lakukan. Aku hanya menemanimu untuk kembali yakin bahwa kamu bisa keluar dari setiap masalah hanya dengan dirimu sendiri, Jani."

"Nug, entah kebaikan apa yang aku lakukan sampai Tuhan menghadiahi seorang yang matanya teduh untuk selalu ditatap."

"Terima kasih dan kalau mungkin kamu perlu alasan paling masuk akal untuk kita berpisah, mungkin alasan itu adalah kematian."

"Nug.."

"Jani, aku tidak menyalahkanmu atas semua keinginanmu untuk hidup dalam dunia yang selalu kamu impikan, tapi dunia terlalu nyata untuk kamu jadikan dongeng yang sesuai dengan keinginanmu. Bahkan aku, aku tidak cukup sempurna untuk mampu membawamu ke dalam dunia yang sering kamu ceritakan itu."

"A..A-Aku tidak lagi ingin hidup dalam dongeng-dongeng itu, Nug. Aku hanya ingin hidup di dunia nyata bersamamu."

"Aku harap sekarang aku bisa membawakanmu makanan yang kamu suka, aku bisa menatapmu lebih lama seperti yang selalu aku lakukan. Tolong selalu ajak aku dalam setiap perasaan yang kamu alami; mungkin saat kamu senang, kamu sedih atau marah. Jani, ketahuilah bersamamu setiap hari adalah caraku menyadari bahwa aku membutuhkanmu."

"Nug, tolong hidup sedikit lebih lama dariku, ya? Tolong ada, setidaknya di bumi ini. Kalaupun akhirnya apa yang direncanakan tidak sesuai maunya kita, tolong beritahu setidaknya memberi kabar bahwa kamu baik-baik saja. Aku butuh untuk terus tahu bahwa kamu selalu merasa aman."

"Iya, Janiku."

"Kamu tahu kita sedang merasakan apa, terkurung dalam badai yang aku sendiri tidak tahu kapan akan berhenti juga sulit, Nug. Aku rindu tapi kamu tak ada di situ.

Saat jarak menjadi bagian ketiga dari dua orang, lalu apa yang paling dibutuhkan selain komunikasi? Masih sanggupkah ego diletakkan lebih tinggi dari pada apa yang dibutuhkan saat berada di ujung kehancuran?

****

Telepon malam itu setidaknya membuat keadaan sedikit lebih baik. 

"Jani, pagi ini, di sini turun salju. I wish you here, I can see how happy you are with your new experiments with snowman that you might make." Sebuah pesan singkat menderingkan ponsel Jani. 

Siang ini, di Jakarta suhunya mencapai hampir 35 derajat celsius, sementara pagi di Den Haag sedang turun salju. 

Nug. Nugraha namanya. Laki-laki yang menjadi teman petualangan Jani dengan semua mimpi yang tersusun rapih di kepalanya. Hari ini tepat hari dimana dua tahun lalu ia merayakan perpisahan mereka di bandara, hari dimana Nugraha harus pergi ke Belanda. 

Nug diterima bekerja untuk salah satu perusahaan pembangunan di Belanda, Den Haag tepatnya, 1 jam perjalanan dari Amsterdam, ibu kota Belanda. Meskipun hampir tujuh tahun bersama, untuk menerima keadaan harus menjalani hubungan jarak jauh itu tetap menyulitkan, apalagi perbedaan waktu yang cukup lama. 6 Jam. 

Jani membalas pesan itu, "It sounds great. Aku harus pulang dulu ya, Nug. Semoga busnya masih menunggu."

Anjani, mahasiswi yang menempatkan cita-cita paling tingginya adalah berpetualang keliling dunia. Sebelum kehilangan kedua orang tuanya sepuluh tahun lalu, ia pernah dijanjikan dunia oleh kedua orang tuanya. Ibunya merupakan dokter gigi berpengalaman sementara Ayahnya seorang pembinis, membuat masa kecil Jani selalu dekat dengan semua yang ia inginkan. Itulah sebabnya ia kerap kali lebih nyaman hidup di dalam dunia yang sebenarnya hanya dongeng yang ada di kepalanya, karena dunia nyata berhasil merebut satu-satunya dunia yang sebenarnya ia punya; Ayah dan Ibu.

"Yang, Jani udah pulang."

"Loh, kok hari ini pulangnya cepet?"

"Iya, Yang. Lagi pengen cepet-cepet pulang aja."

"Ya, sudah, Eyang masakkan makan kesukaanmu, ya?"

"Eh, nggak perlu. Kita makan di luar aja yuk, Yang?"

Satu-satunya sisa dari dunia Jani mungkin adalah Mirna. Eyangnya. Setelah kepergian kedua orang tuanya, Jani kecil hidup bersama dengan Eyangnya di Jakarta. 

Malam itu, suara gemuruh angin yang merengsek masuk ke dalam mobil semakin terasa memekakan telinga. Harusnya Jani ada di sana. Ayah dan Ibu Jani pergi untuk membeli makanan kesukaan Jani waktu itu; chiffon cake. Jani lebih memilih menunggu makanan itu datang untuknya, dia menagih janji kedua orang tua yang tidak ikut datang ke pesta ulang tahun ke 11-nya karena kesibukan masing-masing.

Sunyi malam yang menyelinap diantara obrolan ringan Ibu dan Ayahnya, dari arah berlawanan, minibus melaju dengan kencang menghantam keras mobil yang dikendarai oleh Ayahnya itu. Menurut keterangan polisi, pelaku sedang mabuk berat tapi memaksakan pulang dengan membawa kendaraanya sendiri. 

Jani berumur 11 tahun itu selalu menunggu kepulangan kedua orang tuanya, bukan makanan kesukaannya yang ia terima, kabar duka yang singgah di telinganya. Eyang waktu itu hanya bisa memeluk dan menenangkan Jani yang terus menangis tidak karuan. Tidak hanya Jani, bagi Eyang, Jani juga merupakan sisa dunia yang ia miliki.

"Kamu mau ajak Eyang kemana sih, Jan?"

Sambil mengendarai mobilnya, "Ini Yang sebentar lagi sampai, nanti Eyang juga tahu."

Sebenarnya bukan pilihan yang tepat jalan-jalan di Jakarta pakai mobil, apalagi mobil yang dipakai adalah mobil kesayangan mendiang Ibunya, selain karena sering terjebak macet, memakai mobil itu hanya terus melembabkan lukanya yang sudah mengering. Jani lebih sering naik bus untuk pulang pergi ke kampusnya atau hanya untuk sekadar berjalan-jalan. Tapi karena ia membawa Eyang yang sudah hampir kesulitan berjalan, rasanya menggunakan angkutan umum akan semakin menyiksa wanita tua itu.

"Nah, ini dia."

Jani memberhentikan mobilnya di depan sebuah restauran Jepang. Restauran yang terakhir ia kunjungi bersama kedua orang tuanya seminggu sebelum kejadian yang tidak membawa orang tuanya kembali itu, saat Jani dan keluarga berlibur di Jakarta. Sambil menunggu pesanannya datang, Jani bermain ponselnya.

"Gimana Nugraha, Jan?"

"Baik, Yang."

"Kalau kalian?"

Seperti tidak mengerti maksud wanita yang punya warna mata yang mirip dengannya, "Hm, maksudnya, Yang?"

"Kalian gimana kabarnya? Kalau Nugraha saja kan baik tadi kataya."

"Kami sempat bertengkar, Yang. Aku nggak balas pesannya dua minggu."

"Kenapa? Bukannya Nugraha nggak di sini?"

"Ada client Nug yang suka sama dia, Yang. Nugraha nggak cerita apa-apa sampai email Jani nerima pesan dari media sosialnya Nug kalau si client suka ke Nug dan sudah lama diam-diam suka perhatiin Nug kalau lagi ada jadwal meeting. Aku juga ngga tau kenapa media sosialnya terbuhung ke email aku, tapi Nug nggak pernah cerita apa-apa."

"Jani ada nanyain?"

"Setiap hari, aku selalu nanyain soal kerjaan dia, Yang. Semuanya selalu baik-baik aja katanya, tanpa pernah jelasin apa-apa soal kejadian di kantornya."

"Lalu?"

"Hari itu paperku ditolak dosen, padahal pembahasan di paper itu udah aku siapin bahkan Eyang tau sendiri aku sering enggak makan karena tertalu serius dengan tulisanku itu. Ditambah sore itu aku baca pesan itu dari email aku, Yang."

"Hm?"

"Aku langsung bilang ke Nug dan rasanya hari itu energi aku udah habis buat berdebat tentang pesan masuk itu. Aku diam sampai ternyata waktunya hampir dua minggu, Yang. Selama dua minggu itu aku cuma mikir kenapa itu bisa terjadi di belakang aku? Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa perempuan itu? Aku cukup kacau mungkin karena kondisi jarak yang jauh ini bikin semuanya jadi makin rumit."

"Kenapa Jani nggak coba denger dulu penjelasan Nugraha?"

"Keadaanya bikin aku cuma pengen diem aja, Yang. Lagian apapun penjelasannya, waktu itu, kayanya cuma karena ketauan aja. Kalau nggak ketahuan? Selamanya akan jadi rahasia, Yang. Apapun penjelasannya sia-sia"

"Jani sayang, kalau masalah kecil nggak diselesaikan dengan bicara, itu bisa jadi membesar bahkan bisa menabrakmu kapan saja."

"Tapi masalahnya sudah selesai, Yang. Kami sudah kembali baik-baik aja."

"Jani udah maafin?"

"Hmm, udah, Yang."

"Jan, hubungan antara dua orang itu nggak ada yang sempurna. Ayah dan Ibumu juga suka berbeda pendapat."

"Karena berbeda pendapat kan, Yang, bukannya nggak jujur."

"Jan, setiap hubungan punya keseruannya masing-masing. Hubungan manusia dengan manusia lain itu pasti di dalamnya punya perbedaan. Isinya dua kepala, jadi belajar buat mengerti apa isinya kepala yang satu lagi."

"Iya, Yang."

"Maksudnya Eyang, kalau ada sesuatu yang Jani enggak suka jangan diem aja. Jani harus kasih tau ke Nug gimana perasaan Jani, minta Nug pun begitu. Jan, Ayah dan Ibumu juga bukan pasangan yang sempurna tapi Ayah Ibumu selalu menyampingkan ego mereka untuk mau bicara baik-baik. Dalam hubungan dengan siapapun, kita nggak boleh bersikap mengecilkan perasaan orang lain apalagi kalau orangnya udah terus terang ke kita, jadi kalau ada masalah sekecil apapun, kalian harus saling bicara, setelah bicara kalian harus saling mengerti. Jani mengerti kan? Bilang itu ke Nug, ya."

Meskipun sudah terbilang cukup tua, Eyang tidak pernah menutup matanya dari perasaan yang sering kali aku ceritakan kepadanya. Untukku, ia bukan lagi sekadar wanita tua yang menjelma menjadi Eyang, ia menjadi orang yang bisa aku andalkan dalam apapun bentuk badai di dalam diriku. Mungkin sebab itulah, Ayah dan Ibu selalu menjadi orang tua yang mau saling mendengar, karena begitulah Eyang mengarjarkannya. 

Eyang tidak pernah menyalahkan apapun yang terjadi dalam ceritaku, ia lebih sering menasehatiku tanpa membuatku merasa kecil. Perkembanganku dari menjadi seorang anak-anak sampai hari ini, tidak pernah ada yang membuatku menyesali keadaanku yang dirawat oleh seorang Eyang. Eyang selalu cerita kalau Ibuku di masa remajanya jauh lebih keras kepala dari pada aku, meskipun setelah menjadi seorang Ibu, Ibuku berhasil menjadi Ibu yang baik untukku sampai akhir hidupnya.

****

Waktu Nugraha masih di Jakarta, Jani tidak pernah mengira bahwa memiliki hubungan jarak jauh akan segitu menyebalkannya. Bagian paling menyebalkannya mungkin terletak pada pertengkaran yang kadang dipaksa hilang begitu saja, salah satunya belum selesai, yang satu lagi masih sibuk dengan dunia nyatanya. 

Terkadang suatu kejadian yang sudah lama berlalu bisa terulang dengan tiba-tiba di kepala. Seperti kaset rusak, ceritanya berulang setiap kali coba untuk dilupakan. Bagian paling menyeramkannya adalah hal ini sering terjadi tanpa perlu disetujui lebih dulu. 

Karena satu kejadian mengecewakan, secara tanpa disadari manusia punya proteksi diri dari ancaman sejenis. Ya, sering disebut sebagai rasa khawatir dan takut. Dari satu peristiwa mengecewakan, umumnya manusia akan khawatir bahwa ia akan menemui kekecewaan lainnya di depan sana. Aneh, padahal kita sendiri sadar kalau tidak ada manusia yang bisa meramal nasibnya sendiri apalagi secara spesifik. 

Namun, rasa khawatir lebih sering disalahkan sebab kemunculannya dengan intensitas yang berlebihan, padahal rasa khawatir itu menyelamatkan si empunya hati.

Jani mengangkat ponselnya yang dari tadi berdering, "Jani, kamu belum bangun?"

"Udah."

"Ini kan hari minggu pagi, kok belum nyiram tanamanan?"

Jani bangun dari rebahnya, sebenarnya ia belum benar-benar bangun, bahkan kesal dengan suara telefon yang terus menganggu tidurnya. Gadis dengan wajah kusut khas orang-orang yang belum selesai dengan petualangan di dunia mimpinya, ia lari membuka pintu rumahnya.

Betapa terkejudnya ia melihat laki-laki dengan jaket jeans di ujung pagar rumahnya, laki-laki berkacamata yang ia kenal betul suara dan wanginya. Laki-laki yang dua tahun lalu meninggalkan ia terjebak sendirian di Jakarta yang penuh riuh.

"Nug!"

Nug, ini aku nggak mimpikan? Nug, banyak yang mau aku ceritakan.

"How can it be?"

"Aku bisa kerja remote selama satu bulan, Jani. Aku bisa nemenin kamu di sini."

"Aku senang sekali."

"Jani, maaf ya soal perempuan itu. Dia memang client ku, tapi aku nggak pernah menanggapinya. Memang beberapa kali dia mencoba mengirimiku makanan tapi semua makannya aku berikan ke sekretaris di kantor. Aku salah karena nggak cerita ke kamu setiap kamu tanya soal kerjaan aku, awalnya aku takut kamu khawatir tapi ternyata aku lebih khawatir dengan keadaanmu setelah kamu tau hal itu sendiri. Dua minggu selama kamu nggak kasih kabar apa-apa, aku menghubungi Eyang untuk tahu keadaanmu."

"Aku cuma takut kamu ninggalin aku, Nug."

"Kalau nanti takut lagi, kasih tau aku ya apa yang membuat itu terjadi lagi."

"Nug, jangan pergi lagi, bisa?"

"Jani, bukannya Belanda jadi salah satu negara impianmu? Aku mau jadi tour guide  yang andal buat bisa bawa kamu jalan-jalan di sana nanti." Nug tersenyum.

"Maafin aku ya, Nug. Ketakutanku sempat mengacaukan kita."

Nugraha mengeluarkan botol kaca dengan tutup bewarna hitam dengan air di dalamnya, "Jani, tadinya aku isikan botol ini dengan salju. Mau aku bawakan untukmu, ternyata saljunya tidak bertahan sampai ke rumahmu." 

Yang menjadikan Nug segalanya bukan hanya kepribadiannya yang sederhana dan memiliki semua yang aku butuhkan, tetapi ia juga menyenangkan, ia senang sekali membuat kejutan kecil dengan hal-hal yang kadang belum sempat aku pikirkan.

****

Nug, aku beruntung sekali bisa bersamamu sampai hari ini.
Kalau kamu tahu bagaimana perasaanku sekarang, aku hanya ingin ada di sini, Nug, di perlukanmu ini. 

Nug, aku salah pernah menggampangkan hubungan jarak jauh ini karena aku pikir bersama kamu semuanya jauh lebih mudah. Ternyata sulit karena lawannya tetap isi kepalakku sendiri.

Nug, terimakasih sudah berkata kepada seluruh dunia bahwa kamu maunya aku. Tolong beritahu aku apapun yang menjadikanmu gundah. Tolong jadikan aku seorang yang kau inginkan ada saat kamu mulai gelisah. Nug, akan aku selamatkan kamu dari semua yang menganggumu itu seperti dulu kamu menyelematkan aku yang hampir tenggelam dalam haru.

Nug, tolong jadikan aku satu-satunya yang kau izinkan melihat kekacauanmu. Izinkan aku untuk lebih tau kamu dari siapapun itu. Dunia harus melihatmu baik-baik saja, biar aku yang bantu mengurus luka-lukamu.

Nug, aku takut kalau aku tidak pernah tahu caranya melangkah sendirian tanpa bantuanmu. Aku takut kepergianmu ikut membawa sebagian sisa dunia yang aku punya. Selain Eyang, aku hanya punya kamu, Nug.

Nug, jadilah menyebalkan di hadapanku, jadilah dirimu sendiri yang paling aku sayangi. 

Nug, berjanjilah ada atau tanpa aku di dekatmu, jadikan aku bagian dari teman perjalananmu yang kamu jadikan tujuan sampai nanti tertutup matamu.

Nug, berjanjilah tidak akan ada yang menggantikan posisiku sekeras apapun mereka mencoba.

Nug, terimakasih sudah lahir.

Komentar

Postingan Populer