22.32 di Kereta
Dalam kereta yang baru saja kembali bergerak dari stasiun Mangga Besar, aku memilih berdiri sejenak dan bersandar di dekat pintu kemudian melihat keluar melalui kaca yang ada di sana. Tidak terlalu ramai, semua orang di sini mungkin tidak saling mengenal tapi aku tahu wajah-wajah itu khas wajah kelelahan dan mengantuk, kami tidak saling mengenal tapi aku tahu seluruh isi kepala sudah menanti rumah sebagai tempat paling ingin dituju saat ini.
Aku masih sibuk melihat keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang di setiap lantainya masih ada lampu menyala sementara sebagian yang lain sudah padam. Apa rasanya jam segini masih duduk di depan layar monitor?
Ini kali pertama aku berada larut malam di kereta, di stasiun keberangkatanku tadi masih penuh dengan orang-orang yang bergantian menunggu kereta tapi sampai di dalam ternyata masih banyak tempat duduk yang kosong. Apa semua orang di sini pulang bekerja? Atau sebagian yang lain pulang berlibur? Tapi berlibur apa, inikan hari Jumat.
Aku sudah sampai di stasiun pemberhentian, Duren Kalibata. Dengan kompak orang-orang melangkahkan kaki mereka buru-buru dari setiap gerbong. Ada yang berlari, melompat dan berjalan cepat. Semua ingin cepat sampai untuk istirahat.
Aku singgah di kediaman saudaraku, tempatnya di depan stasiun. Jalanan sudah tidak terlalu ramai tapi aku masih bisa melihat para pekerja dengan jaket khas berwana hijau masih ramai di pinggiran jalan dekat stasiun. Orang-orang masih berlalu-lalang tapi tidak ada yang singgah menghampiri para pekerja tadi. Di sisi jalan yang lain, wajah-wajah yang kelihatannya jauh lebih muda mabuk-mabuk di bawah jembatan sambil bermain gitarnya, salah satu diantara anak laki-laki itu adalah anak perempuan, mungkin seumurku atau lebih muda lagi.
Aku berjalan sampai di depan gedung tinggi bewarna hijau, blok GG. Aku pikir jam segini sebagian besar orang akan memilih untuk tertidur, tapi ternyata masih ada yang makan malam, berjalan-jalan santai dan bekerja sampai... mungkin pagi hari.
Memang seperti apa rupanya Jakarta yang tertidur? Dingin angin malam mampu memeluk siapa saja yang tidak dibalut hangatnya rumah. Dingin angin malam itu sekali lagi tidak menghentikan para pejuang untuk berhenti dan kembali, bahka mereka menyiapkan banyak bekal untuk kembali memerangi malam.
Lampu yang padam rupanya juga bukan tanda Jakarta beristirahat. Yang aku sebut pemberani dan kuat itu masih memilih berjalan di bawah gelapnya langit, ada yang masih membuka mata di tengah kumuhnya tempat singgah, ada yang masih bersuara di tengah malam yang khas dengan keheningan dan ada yang harus terjaga supaya yang menunggunya pulang bisa terlelap dengan layak dalam dekap.
Komentar
Posting Komentar