Pertunjukan Musik
Akhir-akhir ini ramai sekali pertunjukan musik. Mulai dari konser yang diisi oleh band indie daerah sampai mengundang para penyanyi Ibu Kota. Awal bulan dalam proses akhir tahun ini diwarnai dengan berbagai warna warni gelang tanda masuk setiap konser yang berbeda, semua teman-temanku juga tidak lupa untuk mengunggahnya ke media sosial yang mereka miliki.
Dari setiap potongan video yang diunggah di media sosial, aku tahu bahwa mereka yang pergi kesana adalah mereka yang senang dengan perasaan sedih yang juga dinikmati ramai-ramai. Bagi temanku, datang ke konser adalah obat yang bisa menyembuhkan kebencian yang lama terkubur. Aku bisa nyanyi sambil teriak bahkan menangis dan tidak perlu khawatir dengan tatapan bingung orang yang melihatku, begitu katanya. Tak apa, bukankah kita punya cara masing-masing dalam menikmati luka?
Mungkin konser musik adalah salah satu yang juga tidak diciptakan untukku. Aku enggan masuk berdesakan dan kadang malah menonton puluhan bahkan ratusan layar ponsel penonton yang ikut mengudara. Mungkin mereka lebih suka mengabadikan momen untuk dinikmati sendiri di lain waktu. Kalau sesekali tak apa.
Seorang temanku beranggapan aku adalah seorang yang ingin dilihat beda karena tidak suka datang ke konser musik, sekalipun mereka tahu kalau band yang akan tampil adalah yang musiknya selalu aku dengarkan.
Yang temanku itu tidak tahu adalah aku pernah datang ke salah satu pertujukan penyanyi indie. Waktu itu ia mengadakan tour musiknya di beberapa kota besar Indonesia. Aku datang dan ikut menikmati lagu-lagunya yang padahal dari semua lagu yang ia bawakan, aku hanya hafal satu. Sepanjang malam aku ikut menikmati keramaian dan nyanyian penggemarnya. Karena diadakan di dalam sebuah kedai kopi yang lahannya cukup luas, pertunjukan yang bisa kusebut sebagai mini konser itu sangat seru untuk aku yang pertama kali menikmati lagu langsung dari pencipta sekaligus penyanyinya.
Untuk masuk ke dalam mini konser waktu itu, aku tidak perlu antri dan kepanasan karena semua terorganisir dengan baik. Waktu itu pula aku bertemu seseorang yang harusnya ia adalah pembaca pertama laman blog ini.
Alasan yang lebih klise dari kepanasan dan antrian yang panjang adalah karena aku enggan menambah memori tentang konser atau pertujukan musik lainya. Biarlah mini konser yang ku ceritakan tadi menjadi satu-satunya pengalaman menikmati musik yang menyenangkan. Biar momen itu tetap jadi yang nomor satu.
Kalaupun nanti aku akan datang ke konser yang entah kapan dan dimana, biarkan itu terjadi karena aku terpaksa mengikuti keinginan seseorang yang sudah pasti menyebalkan. Karena ia berhasil memaksaku mengganti momen nomer satu itu menjadi yang kedua.
Sebagai tping bumi hanya bisa tersenyum membaca cerita ini
BalasHapus