Di Bawah Tangga

Hanya aku yang tersisa saat semua pergi beranjak darimu, Kataku.

Perempuan di bawah tangga itu terus mengenggam cermin putih miliknya. Seseorang tersenyum di balik cermin itu, senyumnya manis. Senyum yang sama seperti waktu ia dilahirkan ke dunia.

Pandai sekali kamu membungkus rapih sang sedih, Lanjutku. Kini air mata yang entah darimana asalnya mengambil peran membahasahi pipi. Aku kehilangan senyumku yang manis itu, yang merah merekah. Yang biasanya ketika tersenyum, pipiku memaksa mataku menyipit.

Tidakkah suilt menjadi rumit untuk perlu dimengerti oleh diri sendiri? 

Merelakan diri sendiri untuk hanyut bahkan tenggelam dalam lautan duka yang sumbernya adalah kepala sendiri. Perempuan itu hanya duduk diam tersipu malu. Bukan karena seseorang sedang berlutut dengan bunga mawar merah tapi malu karena berhasil ditenggelamkan oleh yang bahkan hanya sekadar genangan.


Komentar

Postingan Populer